Beranda Ekonomi Harga Energi Melonjak, Dolar AS Berpotensi Catat Kinerja Terbaik dalam Tiga Tahun

Harga Energi Melonjak, Dolar AS Berpotensi Catat Kinerja Terbaik dalam Tiga Tahun

Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (Pexels.com/Pixabay.

Publikbicara.com – Dolar Amerika Serikat menguat tajam dan berpotensi mencatat kinerja mingguan terbaiknya dalam lebih dari tiga tahun, menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik setelah serangan militer Amerika Serikat ke Iran.

Mengutip data Bloomberg, Indeks Bloomberg Dollar Spot naik sekitar 1,6 persen sepanjang pekan ini. Jika tren tersebut bertahan hingga penutupan perdagangan,

penguatan itu akan menjadi yang terbesar sejak September 2022.

Lonjakan dolar dipicu meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.

Selain faktor geopolitik, reli dolar juga didorong oleh kenaikan tajam harga energi. Harga minyak acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), tercatat melonjak lebih dari 18 persen sejak Washington memulai serangan ke Iran pada 28 Februari.

Kenaikan harga energi tersebut meningkatkan risiko inflasi di Amerika Serikat dan mendorong pelaku pasar menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat.

Meski demikian, secara keseluruhan indeks dolar masih relatif datar sepanjang tahun ini dan bahkan tercatat melemah lebih dari 8 persen sejak pelantikan Presiden Donald Trump tahun lalu.

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada laporan ketenagakerjaan AS (nonfarm payrolls/NFP) yang akan dirilis Jumat waktu setempat. Data tersebut dinilai menjadi penentu arah pergerakan dolar berikutnya

Trader valuta asing di Monex Inc., Andrew Hazlett, mengatakan kondisi pasar tenaga kerja AS sejauh ini masih cukup kuat.

“Jika data NFP kembali menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja, dolar berpeluang melanjutkan penguatannya,” ujarnya.

Berdasarkan survei ekonom, jumlah pekerjaan di sektor nonpertanian diperkirakan bertambah sekitar 55.000 pada Februari, turun dibandingkan 130.000 pada Januari.

Namun jika angka aktual melampaui ekspektasi, investor diperkirakan kembali meningkatkan permintaan terhadap dolar karena peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

READ  Israel Gempur Teheran, Area Sekitar Kantor Khamenei Terdampak

Kepala strategi pasar Corpay, Karl Schamotta, menilai laporan ketenagakerjaan yang kuat akan memperkuat pandangan bahwa kebijakan moneter ketat di AS masih akan dipertahankan.

Dalam situasi tersebut, sejumlah mata uang utama seperti yen Jepang, euro, dan pound sterling berpotensi kembali tertekan.

Sementara itu, prospek euro justru memburuk di tengah lonjakan harga energi. Ketergantungan Eropa pada pasokan energi dari Timur Tengah memicu kekhawatiran stagflasi di kawasan tersebut.

Sepanjang pekan ini, euro tercatat melemah sekitar 1,8 persen terhadap dolar dan diperdagangkan di kisaran US$1,1575.

Ekonom TS Lombard Davide Oneglia memperingatkan bahwa gangguan pasokan energi dan kenaikan harga dapat memangkas produk domestik bruto (PDB) Eropa hingga sekitar 0,9 persen.(Red).

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakStadion Pakansari Jadi Lokasi Salat Id Pemkab Bogor 1447 H
Artikulli tjetërPemerintah Batasi Akses Medsos Anak di Bawah 16 Tahun, Berlaku Bertahap Mulai Akhir Maret