Foto: Ilustrasi tiket pesawat. (Shutterstock).
Publikbicara.com – Lonjakan harga tiket penerbangan dari Arab Saudi menuju Indonesia menjadi sorotan di tengah situasi ribuan jemaah umrah yang masih menunggu kepastian jadwal kepulangan ke Tanah Air.
Dalam beberapa hari terakhir, harga tiket pesawat rute Jeddah – Jakarta dilaporkan meningkat tajam.
Berdasarkan pantauan pada sejumlah aplikasi pemesanan tiket, tarif penerbangan kelas ekonomi yang biasanya berada di kisaran Rp7 juta hingga Rp8 juta kini melonjak hingga sekitar Rp18 juta sampai Rp20 juta per orang.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi menambah beban biaya bagi para jemaah yang terdampak keterlambatan penerbangan.
Dikutip dari detik.com, Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI), Anggawira, menyampaikan keprihatinannya atas situasi tersebut. Ia meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret guna membantu pemulangan jemaah Indonesia dari Arab Saudi.
Menurutnya, lonjakan harga tiket yang terjadi dalam waktu singkat perlu mendapat perhatian serius agar tidak semakin memberatkan jemaah.
HIPMI juga mendorong pemerintah untuk segera berkoordinasi dengan sejumlah maskapai nasional guna mempercepat proses pemulangan jemaah.
HIPMI juga mendorong pemerintah untuk segera berkoordinasi dengan sejumlah maskapai nasional guna mempercepat proses pemulangan jemaah.
Beberapa maskapai yang dinilai dapat dilibatkan antara lain Garuda Indonesia, Lion Air, dan Batik Air, baik melalui penambahan jadwal penerbangan maupun penyediaan penerbangan tambahan atau extra flight.
Selain itu, HIPMI juga mengusulkan agar pemerintah menetapkan batas harga tiket dalam kondisi darurat. Pengawasan terhadap tarif penerbangan dinilai perlu diperketat guna mencegah praktik spekulasi harga yang berpotensi merugikan masyarakat.
Anggawira menilai peristiwa ini juga menjadi pelajaran penting dalam tata kelola perjalanan ibadah umrah di masa mendatang.
Menurutnya, perlu disiapkan sistem perlindungan yang lebih kuat bagi jemaah, termasuk skema asuransi perjalanan yang mampu mengantisipasi situasi force majeure seperti konflik geopolitik, penutupan wilayah udara, maupun gangguan operasional penerbangan internasional.
Indonesia sendiri tercatat sebagai negara dengan jumlah jemaah umrah terbesar di dunia, dengan lebih dari 1,5 juta orang berangkat setiap tahun.
Karena itu, menurut HIPMI, sistem mitigasi krisis bagi jemaah harus dipersiapkan secara lebih matang agar negara dapat memberikan perlindungan maksimal ketika terjadi situasi darurat.(Red).
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow













