Publikbicara.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir sebagai harapan baru bagi anak-anak sekolah untuk mendapatkan asupan gizi yang lebih baik.
Namun, di wilayah Kabupaten Bogor bagian barat, tepatnya Kecamatan Ciampea, muncul tanda tanya dari sejumlah orang tua siswa.
Pasalnya, pada Sabtu, 14 Februari 2026, salah satu dapur penyedia MBG diketahui hanya membagikan tiga item makanan, yakni susu UHT full cream, roti manis, dan buah manggis.
Menu tersebut memantik pertanyaan di kalangan orang tua penerima manfaat. “Apakah ini sudah cukup memenuhi kebutuhan gizi anak?” begitulah kira-kira kegelisahan yang berkembang.
Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, mitra dapur berinisial Ab membenarkan bahwa pengaturan menu berada di bawah kewenangan SPPI.

“Semua itu ahli gizi dan SPPI,” tulisnya kepada redaksi, Minggu (22/2/2026).
Sementara itu, program MBG dijalankan oleh diantaranya Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Secara teknis, sejumlah sumber menyebutkan bahwa petunjuk teknis (juknis) lebih menekankan kualitas serta nilai gizi dibanding sekadar jumlah item makanan.
Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa fokus utama program adalah keseimbangan gizi, keamanan pangan, dan higienitas.
Artinya, jumlah menu bukan tolok ukur utama, melainkan apakah komposisinya memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan serat bagi anak usia sekolah.
Berdasarkan pedoman dan uji coba MBG yang dirilis BGN, kombinasi roti manis, susu UHT full cream, dan buah lokal seperti manggis atau pisang umumnya masuk dalam kategori makanan ringan (snack) sehat dalam skema MBG.
Susu UHT menjadi sumber protein dan kalsium, roti sebagai sumber karbohidrat, serta buah sebagai penyedia vitamin dan serat.
Kombinasi ini biasanya disajikan pada hari tertentu, misalnya Sabtu, atau sebagai paket makanan selingan untuk melengkapi kebutuhan gizi harian anak.
Namun demikian, terdapat catatan penting. Menu utama MBG yang ideal seharusnya mengacu pada konsep “Isi Piringku”, yakni terdiri dari makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur, dan buah.
Kombinasi roti dan susu UHT umumnya diposisikan sebagai menu selingan atau alternatif dalam situasi tertentu ketika makanan berat tidak memungkinkan.
Meski telah disesuaikan dengan standar gizi BGN, tanpa variasi lauk dan sayuran, menu tersebut berpotensi belum sepenuhnya memenuhi prinsip gizi seimbang untuk anak dalam masa pertumbuhan.
Program MBG sendiri mendorong penggunaan bahan lokal agar nilai gizi tetap optimal dengan biaya terjangkau. Variasi menu juga menjadi kunci agar anak tidak jenuh dan tetap memperoleh spektrum nutrisi yang lengkap.
Ke depan, transparansi komposisi menu dan komunikasi yang lebih terbuka kepada orang tua dinilai penting agar program yang bertujuan mulia ini tetap mendapatkan kepercayaan publik.***
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow












