Tangkap layar pemantauan hilal pada 17-18 Februari 2026. Foto: BMKG.
Publikbicara.com – Pemerintah melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersiap melakukan pemantauan hilal pada 17-18 Februari 2026 guna mendukung penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah. Observasi tersebut menjadi bagian penting dalam sidang isbat yang digelar Kementerian Agama pada 17 Februari 2026.
Sebanyak 37 titik pengamatan disiagakan di berbagai wilayah Indonesia. BMKG menerjunkan tim pengamat bersama perangkat optik dan instrumen astronomi untuk memastikan data visibilitas hilal terekam secara akurat.
Pelaksana Tugas Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, A. Fachri Rajab, menjelaskan bahwa seluruh hasil rukyatul hilal dari berbagai daerah akan dihimpun dan dilaporkan kepada Kementerian Agama sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat.
Kemudian, data observasi akan melengkapi perhitungan hisab yang sebelumnya telah disusun.
Selain pengamatan langsung, BMKG juga menyiapkan data hisab sebagai panduan teknis bagi para pengamat di lapangan.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida, menegaskan parameter astronomis seperti tinggi hilal, elongasi, dan umur bulan menjadi dasar analisis potensi keterlihatan hilal.
Faktor cuaca di setiap lokasi turut menjadi variabel penting dalam menentukan keberhasilan pengamatan. Oleh karena itu, pemantauan dilakukan secara simultan untuk memperoleh gambaran komprehensif kondisi hilal di seluruh Indonesia.
Dengan dukungan ilmiah tersebut, BMKG menegaskan komitmennya menjaga proses penentuan awal Ramadan berlangsung akurat, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun syar’i.
Keputusan resmi 1 Ramadan 1447 H akan diumumkan pemerintah setelah sidang isbat selesai digelar pada 17 Februari 2026.(Red).
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow













