Publikbicara.com – Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyatakan dukungan pemerintah terhadap kolaborasi penyelenggaraan Java Jazz Festival 2026, yang dinilai sebagai contoh keberhasilan pengembangan Intellectual Property (IP) berbasis event di sektor musik.
Pernyataan itu disampaikan Teuku Riefky saat menerima audiensi PT Java Festival Production di Kantor Kementerian Ekraf, Selasa (3/2/2026).
Menurutnya, Java Jazz tidak hanya menjadi ajang pertunjukan musik, tetapi juga menunjukkan bagaimana sebuah IP event nasional mampu bertahan, relevan, dan terus beradaptasi dengan perkembangan industri kreatif.
“Java Jazz Festival bukan sekadar pertunjukan musik, tetapi bukti nyata bahwa IP event Indonesia dapat terus relevan dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kami siap mendukung kolaborasi agar festival ini semakin berdampak bagi industri kreatif nasional,” ujar Teuku Riefky.
Tahun 2026 menandai penyelenggaraan edisi ke-21 Jakarta International Java Jazz Festival. Festival dijadwalkan berlangsung pada 29-31 Mei 2026 di Nusantara International Convention and Exhibition (NICE) PIK 2.
Sejak pertama kali digelar pada 2005, Java Jazz dinilai konsisten membangun ekosistem musik yang memberi nilai ekonomi sekaligus mendukung diplomasi budaya.
Sejumlah festival turunan seperti Java Soulnation, Java Rockin’land, Soundsfair, dan Hodgepodge Festival turut memperkuat portofolio industri pertunjukan di Indonesia.
President Director Java Jazz Festival Dewi Gontha menjelaskan, pemindahan lokasi ke PIK 2 dilakukan untuk meningkatkan aksesibilitas bagi pengunjung dan musisi internasional.
“Lokasi yang lebih dekat dengan bandara memudahkan mobilitas musisi mancanegara, ditambah dukungan akomodasi di sekitar venue,” jelas Dewi.
Ia menyebut, selama perjalanannya Java Jazz telah menghadirkan sekitar 4.000 musisi internasional. Tahun ini, festival mengusung tema “Beyond The Horizon Where Dreams Take The Stage”, dengan konsep perluasan ruang pertunjukan serta penguatan unsur “archipelago” melalui pelibatan musik dari berbagai daerah di Indonesia.
Pihak penyelenggara juga berharap kolaborasi dengan Kementerian Ekraf dapat memperluas dampak festival terhadap industri kreatif.
Berdasarkan data penyelenggara, pengunjung mancanegara terbesar Java Jazz berasal dari kawasan Asia Tenggara (52 persen), disusul Amerika, Eropa, dan Afrika.
Audiensi tersebut turut dihadiri Direktur Keuangan PT Java Festival Production Dwi Cahyono. Menteri Ekraf didampingi Direktur Musik Kementerian Ekraf Mohammad Amin.(Red).
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow













