Beranda Ekonomi Trump Ancam Tarif 25 Persen ke Eropa, Isu Greenland Guncang NATO

Trump Ancam Tarif 25 Persen ke Eropa, Isu Greenland Guncang NATO

Presiden AS Donald Trump berpidato di Gedung Putih pada Rabu (17/12/2025). (Doug Mills/The New York Times/Bloomberg).

Publikbicara.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif impor hingga 25 persen terhadap delapan negara Eropa anggota NATO yang menolak rencana pengambilalihan Greenland oleh Washington.

Ancaman tersebut berpotensi memicu krisis dagang baru sekaligus memperlebar jurang ketegangan antara Amerika Serikat dan sekutu tradisionalnya di Eropa.

Delapan negara yang menjadi sasaran kebijakan tarif itu adalah Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia. Ancaman tersebut disampaikan Trump melalui platform media sosial Truth Social, sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (21/1).

Trump menyatakan tarif akan diberlakukan secara bertahap, dimulai dari 10 persen pada 1 Februari 2026 dan meningkat menjadi 25 persen pada 1 Juni, apabila negara-negara tersebut tidak menyetujui pembelian Greenland secara penuh oleh Amerika Serikat.

“Tarif akan terus dinaikkan sampai kesepakatan tercapai,” sebut Trump.

Trump mengaitkan kebijakan tersebut dengan kehadiran pasukan negara-negara Eropa di Greenland. Langkah pengiriman pasukan itu dilakukan setelah Trump sempat mempertimbangkan opsi militer untuk mencaplok wilayah otonomi milik Denmark tersebut.

“Delapan negara itu datang ke Greenland dengan tujuan yang tidak jelas. Situasi ini berbahaya bagi keamanan dan kelangsungan hidup planet kita,” klaim Trump.

Ia menegaskan, tarif baru akan dikenakan di luar bea masuk yang selama ini sudah berlaku. Saat ini, tarif Amerika Serikat terhadap barang Uni Eropa rata-rata mencapai sekitar 15 persen, sementara produk asal Inggris berada di kisaran 10 persen, dengan tarif lebih tinggi untuk sektor logam dan otomotif.

Sebagai blok dagang yang terdiri dari 27 negara, kebijakan tarif terhadap beberapa anggota Uni Eropa berpotensi menimbulkan efek domino terhadap perdagangan kawasan secara keseluruhan.

READ  Mahasiswa Indonesia Kembali Harumkan Nama Bangsa di Ajang Matematika Internasional

Ancaman Trump juga membayangi masa depan kesepakatan dagang AS-Uni Eropa yang baru dicapai pada Agustus lalu. Wakil Ketua Parlemen Eropa Manfred Weber menyatakan kesepakatan tersebut kini sulit disahkan.

“Kami mendukung perjanjian dagang UE-AS, tetapi dengan ancaman Trump soal Greenland, persetujuan tidak mungkin dilakukan saat ini,” ujarnya, dikutip AFP.

Uni Eropa merespons keras ancaman tersebut. Para duta besar UE dijadwalkan menggelar rapat darurat untuk merumuskan sikap bersama. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menilai langkah Trump bukan sekadar tekanan dagang, melainkan ujian serius bagi nilai-nilai Barat.

“Kami memilih kemitraan dan kerja sama. Kami memilih bisnis kami. Kami memilih rakyat kami,” tegasnya.

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menyatakan keterkejutannya atas ancaman tersebut, terutama setelah pertemuan yang ia nilai konstruktif dengan pejabat tinggi AS.

Ia menegaskan kehadiran militer di Greenland bertujuan menjaga stabilitas kawasan Arktik dan dilakukan secara transparan bersama sekutu NATO.

Nada serupa disampaikan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada tekanan.

“Tidak ada intimidasi atau ancaman yang akan memengaruhi kami,” kata Macron.

Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson juga menolak keras ancaman tarif Trump dan menegaskan masa depan Greenland adalah hak Denmark dan rakyat Greenland sendiri.

Sementara itu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas memperingatkan bahwa konflik terbuka antara AS dan Eropa justru menguntungkan pihak lain.

“China dan Rusia akan senang melihat perpecahan di antara sekutu. Jika keamanan Greenland menjadi isu, pembahasannya seharusnya dilakukan di dalam NATO,” ujarnya. (Red).

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakTutup Rakernas APKASI, Mendagri Dorong Kepala Daerah Wujudkan Asta Cita