Publikbicara.com – Keluhan petani nanas di Kabupaten Kampar, Riau, mengemuka dalam pertemuan dengan Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi di Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BPPMT) Pekanbaru, Jumat (17/1/2026).
Persoalan utama yang disampaikan adalah ketidakpastian status lahan garapan yang sewaktu-waktu dapat ditarik kembali oleh pemiliknya.
Keluhan itu disampaikan oleh Sendo Naminrova (61), petani nanas asal Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang. Ia mengungkapkan bahwa lahan seluas 108 hektare yang digunakan untuk budidaya nanas bukanlah milik pribadi petani, melainkan milik pihak lain yang hanya memberikan izin pemanfaatan.
“Lahan yang kami garap bukan milik kami. Kami khawatir suatu saat diambil kembali,” ujar Sendo di hadapan Wakil Menteri Transmigrasi.
Di Desa Rimbo Panjang terdapat 38 petani nanas. Setiap satu hektare lahan mampu menghasilkan sekitar 19.000 buah nanas dengan harga jual mencapai Rp6.000 per buah. Hasil budidaya tersebut, menurut Sendo, menjadi sumber utama penghidupan petani, termasuk untuk menyekolahkan anak-anak mereka.
Menanggapi keluhan tersebut, Viva Yoga Mauladi menyatakan bahwa reforma agraria menjadi salah satu mandat Presiden Prabowo Subianto kepada Kementerian Transmigrasi. Pemerintah, kata dia, mendorong pemberian lahan kepada masyarakat melalui program transmigrasi karya nusa maupun transmigrasi lokal.
“Tanah yang diberikan bukan hanya sekadar lahan, tetapi menjadi sumber ekonomi untuk meningkatkan pendapatan rakyat,” ujar Viva Yoga.
Ia menambahkan, masyarakat yang belum memiliki lahan dapat mengikuti program transmigrasi yang disiapkan pemerintah.
Viva Yoga juga mengapresiasi Kampar sebagai sentra komoditas nanas di Riau. Tiga desa, yakni Rimbo Panjang, Pagaruyung, dan Kualu Nenas, tercatat memiliki ribuan hektare lahan nanas.
Untuk meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut, BPPMT Pekanbaru menggelar Festival Nanas bertema Pengembangan Komoditas Nanas sebagai Produk Unggulan di Kawasan Transmigrasi.
Festival tersebut menampilkan berbagai produk olahan nanas, mulai dari sirup, dodol, keripik, hingga jajanan tradisional.
Selain itu, Kementerian Transmigrasi juga merencanakan pengembangan rumah produksi nanas sebagai bagian dari pemberdayaan petani.
Sebagai wujud keseriusan program, Viva Yoga meresmikan Pusat Edukasi Nanas Moris yang berlokasi di area belakang BPPMT Pekanbaru. Usai peresmian, ia bersama Kepala BPPMT Pekanbaru Ahmad Syahir melakukan penanaman bibit dan panen nanas.
Menurut Viva Yoga, nanas memiliki nilai ekonomi tinggi karena hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan, mulai dari buah hingga daunnya. “Nanas bisa diolah menjadi sirup, wine, pupuk, kosmetik, bioetanol, hingga serat kain,” ujarnya.
Keberadaan pusat edukasi tersebut diharapkan menjadi sarana pelatihan bagi calon transmigran dalam membudidayakan nanas.
Mereka nantinya akan ditempatkan di berbagai kawasan transmigrasi agar pengembangan komoditas nanas dapat dilakukan secara luas dan berkelanjutan.
Sementara itu, Ahmad Syahir menyebut nanas sebagai tanaman yang adaptif karena dapat tumbuh di lahan tandus, gambut, maupun tanah kurang subur. Wilayah kerja BPPMT Pekanbaru sendiri mencakup seluruh Pulau Sumatera, Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau. “Nanas kami jadikan produk unggulan sekaligus maskot BPPMT Pekanbaru,” tegasnya.
Adapun varietas nanas moris yang dibudidayakan petani Kampar, menurut Sendo, memiliki keunggulan rasa manis, aroma harum, tahan hama, serta mampu bertahan hingga satu minggu setelah dipanen. (Red).
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow













