Beranda Daerah Trofi Abyakta Siap Diberikan, PWI Pusat Tetapkan 10 Kepala Daerah dan 3...

Trofi Abyakta Siap Diberikan, PWI Pusat Tetapkan 10 Kepala Daerah dan 3 Wartawan Peraih AK 2026

Publikbicara.com – Sepuluh kepala daerah dan tiga wartawan senior ditetapkan sebagai penerima Trofi Abyakta Anugerah Kebudayaan (AK) PWI Pusat 2026 setelah berhasil mempertahankan proposal di hadapan dewan juri, Jumat (9/1/2026).

Mereka akan menerima penghargaan tersebut pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digelar di Provinsi Banten, 9 Februari 2026 mendatang.

Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, mengatakan, para penerima dinilai mampu menghadirkan inovasi kebudayaan yang berdampak langsung terhadap penguatan identitas lokal sekaligus pembangunan sosial di daerahnya.

“Mereka berhak menerima Trofi Abyakta karena berhasil mempertahankan gagasan kebudayaan yang aplikatif dan berkelanjutan,” ujar Yusuf.

Dari sepuluh kepala daerah penerima, tiga di antaranya mengikuti presentasi secara daring karena alasan kemanusiaan, penanganan bencana alam di Sumatra, serta keterlibatan dalam agenda adat di wilayahnya.

Selain kepala daerah, AK-PWI Pusat 2026 juga menambah satu kategori baru, yakni wartawan dengan komunitasnya. Tiga wartawan senior yang menerima penghargaan tersebut adalah Rahmi Hidayati bersama Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI), Seno Joko Suyono dengan Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF), serta Nenri Nurcahyo melalui komunitas Panji.

Penghargaan Anugerah Kebudayaan PWI Pusat telah berlangsung sejak HPN 2016 di Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan terus berlanjut pada HPN 2020 di Banjarmasin, HPN 2021 di Jakarta, HPN 2022 di Kendari, hingga HPN 2023 di Medan.

Tahun ini, ragam gagasan yang diusung penerima mencerminkan kekayaan budaya Nusantara, mulai dari Kota Malang yang mengangkat diri sebagai kota kreatif versi UNESCO, Temanggung dengan Kuda Lumping yang diarahkan ke panggung internasional, hingga Manokwari yang menjadikan Festival Teluk Boreh sebagai simbol harmoni sosial dan toleransi di Papua.

READ  Pembinaan dan In-House Training Guru SMPN 2 Jasinga

Wali Kota Mataram mengangkat Gerbang Sangkareang sebagai landmark budaya baru, Samarinda mempopulerkan sarung tenun sebagai wastra lokal menuju pusaka nasional, sementara Manggarai merevitalisasi rumah adat Mbaru Gendang berbasis gotong-royong.

Blora menampilkan aktualisasi ajaran Samin sebagai spirit pembangunan berkelanjutan, Lampung Utara mengangkat tarian Cangget Bakha sebagai media pertemuan muda-mudi, Labuhanbatu mengusung Gerakan Empati Masyarakat (Gema Sahabat).

Padang Pariaman merevitalisasi tradisi Maulik Gadang, dan Manokwari menegaskan Festival Teluk Boreh sebagai perekat keberagaman Papua. (Red).

Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow

Artikulli paraprakASAR Humanity Turun ke 10 Desa, Gotong Royong Percepat Pemulihan Aceh Pasca Bencana