Publikbicara.com – Pemerintah memastikan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 tetap solid di tengah tekanan ekonomi global. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan realisasi sementara APBN 2025 yang menunjukkan pendapatan dan belanja negara berjalan sesuai arah kebijakan fiskal pemerintah.
Dalam konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Kamis (8/1), Menkeu menegaskan APBN berperan sebagai instrumen utama kebijakan fiskal yang responsif dan antisipatif dalam menghadapi dinamika global dan domestik sepanjang 2025.
“Dalam kondisi yang volatile, APBN menjadi instrumen kebijakan yang mampu meredam tekanan sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Purbaya.
Hingga laporan semester berjalan, pendapatan negara telah terealisasi sebesar Rp2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari outlook Rp2.865,5 triliun. Penerimaan ini ditopang oleh penerimaan perpajakan sebesar Rp2.217,9 triliun atau 89 persen dari target, dengan kontribusi pajak Rp1.917,6 triliun dan kepabeanan serta cukai Rp300,3 triliun.
Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) melampaui target dengan realisasi Rp534,1 triliun atau 104 persen dari target Rp477,2 triliun. Penerimaan hibah juga mencatat lonjakan signifikan mencapai Rp4,3 triliun.
Di sisi belanja, realisasi mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari outlook Rp3.527,5 triliun.
Belanja pemerintah pusat terserap Rp2.602,3 triliun, sementara transfer ke daerah mencapai Rp849 triliun.
Pemerintah menegaskan, belanja negara difokuskan pada program-program prioritas yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat, sekaligus menjaga tata kelola fiskal agar defisit tetap terkendali di level aman 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau sebesar Rp695,1 triliun.
Menkeu menambahkan, kebijakan fiskal 2025 juga diarahkan sebagai langkah countercyclical untuk menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tekanan global.
“Kita memberikan stimulus agar ekonomi tetap berekspansi, namun tetap menjaga disiplin fiskal agar defisit tidak melewati batas 3 persen,” ujarnya.
Pemerintah optimistis fondasi ekonomi yang menguat akan memungkinkan defisit fiskal ditekan lebih rendah pada 2026, dengan dampak pertumbuhan yang lebih luas bagi masyarakat. Tahun ini, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen dan berupaya mendorongnya ke level yang lebih tinggi.
APBN akan terus dioptimalkan peranannya sebagai peredam guncangan (shock absorber) guna melindungi daya beli masyarakat dan menjaga stabilitas ekonomi nasional. (Red).
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow













