Publikbicara.com – Dunia olahraga voli Indonesia, khususnya di Jawa Barat, kehilangan salah satu tokoh pentingnya.
Drs. H. Dadi Saridji, sosok yang dikenal sebagai penggerak pembinaan atlet voli, menghembuskan napas terakhirnya pada Jumat (31/01/2025) pukul 00.45 WIB di RS Islam Bandung akibat sakit.
Almarhum akan dimakamkan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Drs. H. Dadi Saridji merupakan sosok berpengaruh dalam dunia voli. Ia tercatat sebagai Pengurus Pengprov PBVSI Jawa Barat, mantan Pengurus PBVSI Kota Bandung, sekaligus pendiri dan ketua klub voli ternama, PBV Bandung Tectona.
Dedikasi Tanpa Batas untuk Bola Voli
Dadi Saridji bukan sekadar pelatih atau pengurus, tetapi juga seorang pionir dalam pembinaan atlet voli. Pria kelahiran Bandung, 13 Februari 1939 ini telah lebih dari 30 tahun mengabdikan diri untuk mencetak atlet voli berbakat.
Dengan latar belakang sebagai pensiunan karyawan PT Perhutani, ia membangun klub Bandung Tectona, sebuah wadah bagi generasi muda untuk berkembang di dunia voli.

Meski awalnya lebih tertarik pada sepak bola, jalan hidup membawanya ke dunia voli sejak 1988, ketika ia dipercaya membentuk tim voli Perhutani Jabar untuk ajang Pekan Olahraga (POR).
Kemenangan timnya saat itu menjadikannya sosok yang dipercaya untuk membina klub voli yang hingga kini masih eksis.
Nama Tectona, yang berarti kayu jati—produk unggulan Perhutani—dipilih sebagai simbol kekuatan dan ketahanan timnya.
Filosofi ini sejalan dengan misinya mencetak pemain voli tangguh yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Bandung Tectona: Pencetak Bintang Voli Nasional
Di bawah kepemimpinan Dadi Saridji, Bandung Tectona berkembang menjadi salah satu klub voli paling berprestasi di Indonesia.
Klub ini bahkan mencatat sejarah sebagai tim pertama yang menjuarai Proliga, kompetisi voli profesional di Indonesia.
Tak hanya mengejar kemenangan, Dadi juga dikenal sebagai sosok yang selalu mengutamakan regenerasi pemain.
Dalam berbagai kejuaraan seperti Livoli, ia lebih memilih menurunkan pemain muda agar mereka siap melanjutkan tongkat estafet para seniornya.
“Kami fokus membina pemain muda. Tim senior mungkin hanya bertahan 2-3 tahun lagi, setelah itu junior yang akan melanjutkan perjuangan mereka,” ujar Dadi dalam salah satu wawancaranya.
Warisan Tak Ternilai bagi Bola Voli Indonesia
Kepergian Drs. H. Dadi Saridji menjadi kehilangan besar bagi dunia voli, khususnya di Jawa Barat. Dedikasi dan kontribusinya dalam mencetak atlet-atlet berbakat akan terus dikenang.
Kini, warisan yang ia tinggalkan bukan hanya dalam bentuk prestasi klub Bandung Tectona, tetapi juga dalam semangat juang para pemain muda yang pernah ia bina.
Nama dan jasanya akan tetap hidup dalam sejarah olahraga voli Indonesia. Selamat jalan, Pak Dadi. Dedikasi dan perjuanganmu akan selalu dikenang.***
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow











![“Love Therapy” [2025]: Perjuangan Seorang Anak, Cinta yang Terlambat, dan Sarung untuk Bapak](https://i0.wp.com/publikbicara.com/wp-content/uploads/2025/06/IMG-20250620-WA0036.jpg?resize=100%2C75&ssl=1)

