Publikbicara.com – Tanda-tanda penurunan daya beli kelas menengah semakin terlihat jelas. Ekonom Senior Indef, Didik J. Rachbini, mengungkapkan bahwa penurunan daya beli masyarakat, terutama di kalangan kelas menengah, terlihat dari deflasi yang melanda Indonesia selama tiga bulan berturut-turut.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), deflasi tercatat sebesar -0,03 persen pada Mei, -0,08 persen pada Juni, dan meningkat menjadi -0,18 persen pada Juli 2024.
Meskipun deflasi sering dipandang sebagai kabar baik karena harga yang lebih rendah, Didik menegaskan bahwa fenomena ini justru mengindikasikan masalah serius dalam perekonomian.
“Deflasi mungkin tampak menguntungkan bagi konsumen karena harga yang lebih murah, namun sebenarnya ini adalah sinyal bahaya yang menunjukkan bahwa daya beli masyarakat sedang melemah,” ujar Didik dalam keterangan persnya pada Jumat (2/8).
Beberapa faktor utama yang menyebabkan penurunan daya beli ini meliputi:
- Kinerja Industri Manufaktur yang Menurun: Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur turun dari 50,7 pada Juni menjadi 49,3 pada Juli 2024, menandakan kontraksi dalam sektor ini.
- PHK Massal: Terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat menurunnya permintaan domestik dan internasional menyebabkan produksi terhambat dan penurunan ekspor.
-
Penurunan Jumlah Kelas Menengah: Berdasarkan data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang diolah oleh Bank Mandiri dalam Daily Economic and Market (Juli 2024), proporsi kelas menengah di Indonesia pada 2023 hanya 17,44 persen, turun drastis dari 21,45 persen pada 2019.
Penurunan signifikan dalam jumlah kelas menengah ini menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia sedang menghadapi tantangan berat.
Apakah langkah-langkah kebijakan yang tepat dapat mengatasi isu ini dan memulihkan daya beli masyarakat? Hanya waktu yang akan menjawab.
Ikuti saluran Publikbicara.com di WhatsApp Follow












