25.2 C
Bogor
Jumat, 26 Februari 2021

Cerita Perias Mayat Gratis Yang Pernah Alami Hal-Hal Aneh

Berita Populer

DP Sempat Pamit Kerjakan Tugas Sekolah

CIBUNGBULANG - DP warga kampung Ciaruteun RT 01 RW 03, Desa Cimanggu 1, Kecamatan Cibungbulang, yang ditemukan tewas...

Satpol PP Kabupaten Bogor Bersihkan Ratusan PKL Liar Pasar Leuwiliang

LEUWILIANG-Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bogor hancurkan ratusan pedagang kaki lima yang berada di bahu jalan raya...

Usai Jajan Di Warung, DP Tak Pulang Lagi

CIBUNGBULANG - Sehari sebelum korban DP meninggal dunia dan jasadnya di ketemukan warga dalam kantong plastik besar berwarna hitam...

Anggota Satpol PP Ini Miliki Nama Unik di Name Tag

LEUWILIANG - Dalam operasi penertiban pedagang kaki lima di sepanjang jalan raya leuwiliang tepatnya di depan pasar Leuwiliang, ada...

Miris! Di Wilayah Tambang Emas Nenek Ane Tinggal di Rumah Beralaskan Tanah

NANGGUNG - Miris! Seoang janda berusia sekitar 50 tahun tinggal sendiri di rumah bilik bambu beralaskan tanah di Kampung...
- Advertisement -

JAKARTA – Gloria Elsa Hutasoit mendedikasikan hidupnya untuk berbuat kebaikan. Salah satunya adalah dengan jadi perias jenazah tanpa bayaran. Menurutnya, setiap orang berhak untuk terlihat layak dan cantik di hari terakhir mereka. Ia sendiri mencari penghasilan dengan melakukan berbagai macam hal, mulai dari ngamen hingga julan ikan cupang.

Belum lama ini Gloria menceritakan kisahnya sebagai perias jenazah kepada 20detik. Wanita itu mengaku terinspirasi dari kebaikan yang diberikan Tuhan dan ingin membalasnya dengan menolong dan menjadi bagian dari orang yang berduka. “Karena saya mau mengembalikan apa yang Tuhan pernah kasih dalam kehidupan saya di mana ada satu titik waktu itu saya pernah dibantu Tuhan pada saat suami saya sakit dan kita dalam keadaan sudah,” kata Gloria dalam wawancara.

Menjadi perias jenazah tentu bukan hal yang mudah. Gloria harus bisa membuat mereka tampak layak dengan segala kondisi yang dialami sebelumnya. Tak jarang ia pun menggunakan hal-hal tak biasa dalam makeup seperti lem hingga tanah liat untuk membuat makeup menempel hingga menutup luka terbuka. Karena itu, menurutnya perias jenazah harus berpikir cepat untuk menanganinya.

- Advertisement -

Selain itu, tentunya perias jenazah harus siap berhadapan dengan kemistisan. Gloria sendiri tentu pernah mengalami hal-hal aneh yang bahkan membuatnya sampai sakit ketika merias orang terkena santet. Ia pun mengaku memang jadi lebih sensitif setelah sering merias mayat.

“Saya pernah ngerias orang yang sakit karena disantet itu pada saat saya datang, foto banyak gerak dan jatuh, tangannya meringkuk. Kalau orang meninggal kan dingin ya, ini panas. Jadi saya bisikin, saya doain. Pulang dari situ saya demam, tidak bisa tidur, panas, dan mencekam banget sih waktu merias itu. Banyak banget suara yang saya dengar, suara yang menyeramkan, auman singa, dan lain-lain,” kata Gloria.

Bahkan tak jarang Gloria juga menjadi perantara antar jenazah dan keluarga. “Ketika aku merias, aku berbicara secara roh dengan roh. Biasanya aku dapat pesan khusus dari orang yang sudah meninggal untuk orang yang masih hidup. Keluarga yang ditinggalkan dan aku sampaikan karena orang meninggal punya hal yang belum sempat diwariskan,”

- Advertisement -

Tak hanya gratis merias jenazah, Gloria juga aktif dalam kegiatan bersifat amal lainnya. Ia mengajar makeup untuk difabel dan mengorganisir produk-produk kosmetik kadaluarsa untuk perias jenazah di kawasan terpencil. Program yang disebutnya sebagai Maraton Kebaikan itu ternyata peninggalan suaminya yang meninggalkan karena diabetes.

Apa itu Maraton Kebaikan yang dimaksud Gloria soal merias jenazah?

“Maraton Kebaikan adalah konsep yang saya bikin dengan suami saya untuk mengumpulkan makeup kadaluarsa dan meneruskan kembali sebagai alat perang semua perias jenazah di Indonesia merias jenazah yang ada di gereja-gereja di desa, di lereng gunung,” katanya.

- Advertisement -

Meski mendedikasikan hidupnya untuk menolong tanpa bayaran tentu Gloria dan keluarga juga butuh pemasukan. Untuk membiayai hidup, ia mengaku berjualan berbagai macam hal.

“Dari awal saya menjadi perias jenazah saya memang sudah memutuskan untuk gratis. Pemasukan saya adalah orang yang mau bekerja apa saja, jualan apa saja. Kebetulan saat-saat ini saya jualan bawang, ngebreed ikan cupang juga, jualan ikan cupang, lalu saya juga merias orang yang bukan jenazah jadi berbayar. apa saja sih, saya lakukan. Ngamen juga, apapun itu,” ucap Gloria.

Meski sudah melakukan banyak kegiatan amal namun Gloria masih merasa belum cukup. Salah satu impiannya yang belum terwujud adalah untuk punya rumah duka yang full service tapi gratis. Ia pun berharap jika gerakan Maraton Kebaikan bisa berjalan bahkan tanpa inisiasi darinya.

“Saya mau pesan hidup itu adalah kesempatan berbuat baik dan berbuat baik itu tidak boleh menunggu, harus dilakukan sekarang. Berbuat baik itu bukan soal kehebohan berapa yang kita kasih tapi seberapa ikhlas kita memberi,” ungkap perias jenazah gratis itu.

Sumber :Detik

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan

Berita terbaru

Tiba Di Rumah Duka, Jasad Mayat Terbungkus Plastik Dimakamkan Pihak Keluarga

CIBUNGBULANG - Pasca ditemukan pada kamis (25/2/2021) Suasana pemakaman mayat dalam plastik di Desa Cimanggu 1, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten...

Berita Terkait
publikbicara.com