23.9 C
Bogor
Jumat, 26 Februari 2021

Pelanggan PLN Keluhkan Tagihan Listrik Sampai Rp68 Juta

Berita Populer

DP Sempat Pamit Kerjakan Tugas Sekolah

CIBUNGBULANG - DP warga kampung Ciaruteun RT 01 RW 03, Desa Cimanggu 1, Kecamatan Cibungbulang, yang ditemukan tewas...

Satpol PP Kabupaten Bogor Bersihkan Ratusan PKL Liar Pasar Leuwiliang

LEUWILIANG-Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bogor hancurkan ratusan pedagang kaki lima yang berada di bahu jalan raya...

Usai Jajan Di Warung, DP Tak Pulang Lagi

CIBUNGBULANG - Sehari sebelum korban DP meninggal dunia dan jasadnya di ketemukan warga dalam kantong plastik besar berwarna hitam...

Anggota Satpol PP Ini Miliki Nama Unik di Name Tag

LEUWILIANG - Dalam operasi penertiban pedagang kaki lima di sepanjang jalan raya leuwiliang tepatnya di depan pasar Leuwiliang, ada...

Miris! Di Wilayah Tambang Emas Nenek Ane Tinggal di Rumah Beralaskan Tanah

NANGGUNG - Miris! Seoang janda berusia sekitar 50 tahun tinggal sendiri di rumah bilik bambu beralaskan tanah di Kampung...
- Advertisement -

JAKARTA — Seorang pelanggan listrik PT PLN (Persero) mengeluh karena tagihan listrik melambung menjadi Rp68 juta. Merasa terjadi kesalahan, pelanggan tersebut pun menuangkan keluhannya melalui media sosial Twitter.

Melalui akunnya, @melanieppuchino menjelaskan kronologi tagihan Rp68 juta itu dimulai pada Oktober 2020. Ia mendapatkan tagihan listrik sebesar Rp5 juta.

Menurutnya, tagihan tersebut lebih tinggi dari sebelumnya yang hanya di kisaran Rp500 ribu hingga Rp700 ribu.

- Advertisement -

Padahal, ia baru menempati rumahnya tersebut selama 2 tahun. Sebelumnya, rumah tersebut milik kakak sang suami.

“Selama itu, tukang catat tagihan tidak pernah mencatat, baru datang sekitar September/Oktober untuk mencatat tagihan (padahal mobil selalu terparkir di dalam pagar),” tulisnya, dikutip Senin (18/1).

Pada November 2020, tagihan listriknya masih bertengger di Rp5 juta. Karenanya, ia memutuskan untuk melaporkan kejadian tersebut di Kantor PLN Cabang Kreo, Ciledug, Tangerang.

- Advertisement -

“Tapi, hanya satpam yang disuruh melayani. Hanya disuruh tinggalin nomor telepon dan nama, dan akan dihubungi. Ternyata, total kekurangannya Rp20 juta (kira-kira), dan kami dipaksa nyicil/putus,” jelasnya.

Kejadian masih berlanjut di 13 Januari 2021. Ia menjelaskan ada inspeksi dari PLN oleh petugas dengan seragam resmi PLN. Petugas tersebut memeriksa rumah mereka serta meminta izin untuk mengganti meteran listrik dengan alasan angka dalam meteran tersebut tidak presisi sehingga harus dicek.

“Kami diwajibkan datang untuk uji lab hari Jumat (15 Januari 2021) untuk menyaksikan. Unit sudah ditahan sejak kemarin, dan kami bahkan tidak tahu isinya. Hari ini sewaktu dibuka, mereka bilang segel rusak dan ada kabel jumper di dalam meteran,” tuturnya.

- Advertisement -

Ia mengaku kaget melihat kondisi meteran listrik tersebut. Pasalnya, ia mengaku tidak tahu menahu perihal meteran.

Hal yang lebih mengejutkan adalah petugas PLN menyodorkan tagihan sebesar Rp68 juta.

“Kami kemudian disodori tagihan lagi sebesar Rp68jt lebih. Padahal saat uji lab, error-nya hanya 10 persen-15 persen. Lantas darimana angka ini? Udah gitu, pilihan cuma bayar/putus,” imbuhnya.

Tak berhenti sampai di situ, ia diminta membayar sebesar 30 persen dari tagihan listrik tersebut. Itu setara Rp24 juta.

Selanjutnya, pihak PLN juga memintanya mencicil Rp20 juta untuk kekurangan tagihan listrik tersebut.

“Bahkan tidak diberi nafas untuk membayar. Pilihannya bayar hari ini atau listrik langsung diputus. Apa begini cara @pln_123 terhadap rakyat ?? Memangnya uang Rp20 juta itu semua orang punya ??? Kejam !” tulisnya.

Atas keluhan itu, ia menyatakan Manager Operasional Kantor PLN Cabang Kreo Yondri telah menyambangi kediamannya pada Sabtu, 16 Januari 2021. Perwakilan PLN tersebut melakukan mediasi, menjelaskan serta meminta maaf.

“Ternyata ada opsi pengajuan keberatan selain bayar/putus ya teman-teman. Dan ini tidak disampaikan oleh petugas yang berkaitan. Banyak banget kekurangan etika dan edukasi yang kurang dari PLN. Saya masih berharap nominal sisa Rp48 juta bisa dinegosiasikan, bahkan kami bersedia disidik jari,” terangnya.

Menanggapi kejadian tersebut, PLN telah menyampaikan jawabannya. Pihak PLN UP3 Kebon Jeruk menjelaskan kejadian tersebut bermula ketika petugas PLN menyambangi rumah Sabarudin Widjaja (nama pelanggan) pada 14 Januari 2021 untuk melakukan Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL)

“Ditemukan kejanggalan pada kWh meter yaitu pada angka meter dan segel. PLN membawa kWh meter tersebut untuk dilakukan pengujian,” jelas PLN UP3 Kebon Jeruk dalam keterangan resmi.

Selanjutnya, PLN melakukan pengujian terhadap kWh meter tersebut di laboratorium Tera PLN dengan disaksikan oleh konsumen bersangkutan dan pihak kepolisian. Hasil pengujian, ternyata ditemukan pelanggaran.

“Dari hasil penjualan tersebut ditemukan kawat jumper pada kWh meter yang mempengaruhi perhitungan pemakaian tenaga listrik. Pelanggaran tersebut masuk ke golongan pelanggaran P2 yaitu mempengaruhi pengukuran energi dan dikenakan tagihan susulan (TS) sebesar Rp68.051.521,” imbuhnya.

PLN UP3 Kebon Jeruk juga menyatakan jika konsumen bersangkutan menerima penjelasan PLN dan bersedia membayar TS tersebut dengan uang muka sebesar 30 persen, sedangkan sisanya dibayarkan secara angsuran.

Karenanya, PLN mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mengutak-atik kWh meter sendiri sehingga dapat mempengaruhi pemakaian energi listrik.

“Serta sebelum melakukan jualbeli/sewa menyewa rumah agar melakukan ceks kelistrukan (rekening dan kWh) ke PLN agar tidak menimbulkan permasalah di kemudian hari,” imbuhnya.

Sumber:Cnn Indonesia

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan

Berita terbaru

Tiba Di Rumah Duka, Jasad Mayat Terbungkus Plastik Dimakamkan Pihak Keluarga

CIBUNGBULANG - Pasca ditemukan pada kamis (25/2/2021) Suasana pemakaman mayat dalam plastik di Desa Cimanggu 1, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten...

Berita Terkait
publikbicara.com