Tips Atasi Bisnis Makanan Sepi Pembeli Saat Pandemi

Berita Populer

Hujan Es, Empat Pohon Tumbang di Leuwiliang

LEUWILIANG - Hujan deras disertai angin kencang robohkan sedikitnya 4 pohon tumbang di jumlah wilayah di Desa Cibeber 2,...

Kabar Duka Dunia Hiburan, Rina Gunawan Meninggal Dunia

JAKARTA - Kabar duka kembali datang dari dunia hiburan. Artis Rina Gunawan meninggal dunia. Berita tersebut dibenarkan oleh manager...

Sejumlah Wilayah di Kecamatan Leuwiliang Diterpa Angin Puting Beliung

LEUWILIANG - Hujan deras disertai angin kencang juga melanda Desa Leuwimekar, Kecamatan Leuwiliang pada, Senin sore (01/03/2021) merobohkan beberapa...

JPU KPK Tuntut Rahmat Yasin Hukuman 4 Tahun Penjara

BANDUNG - Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK menuntut mantan Bupati Bogor Rahmat Yasin hukuman penjara selama empat tahun, denda...

Satu Rumah Ambruk Diterjang Angin Kencang di Cibungbulang

CIBUNGBULANG - Rumah milik keluarga Muhammad Ali yang berlokasi di Kampung Cirangkong RT 16 RW 05, Desa Cemplang, Kecamatan...
- Advertisement -

JAKARTA – Pandemi virus Corona (COVID-19) mengubah perilaku konsumen sangat drastis. Terutama bagi konsumen di bisnis makanan dan minuman yang kini sudah mengurangi aktivitas makan di luar, dan sebagian besar memilih memesan secara online.

Kondisi itu dialami di seluruh dunia. Menurut Food Writer TripAdvisor Jovel Chan, pebisnis makanan dan minuman, khususnya yang memiliki restoran sudah tak bisa lagi mengandalkan promosi dengan memamerkan lokasi tokonya yang strategis, atau desain interior restorannya yang indah.

“Jadi yang terjadi selama pandemi adalah kita sudah menyingkirkan pencarian informasi secara offline. Restoran yang menggembor-gemborkan bahwa lokasi mereka sangat strategis, atau indahnya desain interior mereka, atau jejak pelanggan-siapa saja yang pernah ke situ, semua tak lagi menjadi kunci unique selling saat ini,” kata Jovel dalam virtual event Reimagine: Halal in Asia 2020 yang bertema Asia’s Golden Age: 2021 and Beyond for Halal Ecosystem, Kamis (3/12/2020).

- Advertisement -

Di sisi lain, 81% dari populasi dunia tak bisa jauh-jauh dari ponsel. Selain itu, pengguna media sosial semakin bertambah di tengah pandemi. Ia memaparkan, 72% penetrasi pengguna Facebook itu berasal dari negara-negara ASEAN, China, dan Korea Selatan. Jumlahnya mendekati 250 juta pengguna Facebook pada Juni 2020.

“Berarti itu setara dengan 40% dari total populasi di ASEAN, China, dan Korsel,” ujar Jovel.

Dari total tersebut, 60% di antaranya menggunakan media sosial untuk menentukan di mana atau makanan apa yang akan mereka pesan.

- Advertisement -

Nah, melihat kondisi itu, tentunya restoran sudah tak bisa mengelak lagi untuk mengubah cara promosi ke media sosial. Tapi, caranya pun tak sembarangan atau mengandalkan langkah-langkah yang sangat biasa.

“Terutama bagi restoran di Asia Tenggara, mereka banyak yang kesulitan mengadaptasi pandemi Corona. Mereka tidak sepenuhnya memahami. Padahal, hanya mengunggah menu di Instagram atau Facebook itu tak sepenuhnya bisa diandalkan untuk menggaet konsumen,” ujarnya.

Ia menegaskan, pebisnis harus mau memanfaatkan fitur lain dari media sosial untuk meningkatkan promosinya. Ia mencontohkan, saat ini Instagram sudah menyediakan fitur belanja pada menu pencarian. Meski baru tersedia di beberapa negara, sebenarnya sudah ada fitur memesan makanan langsung dari Facebook dan Instagram, yang akan menyambungkan langsung pada aplikasi lain untuk melakukan transaksi.

- Advertisement -

“Instagram dan Facebook sudah sangat beradaptasi dengan memberikan layanan di mana pengguna bisa melakukan transaksi atas makanan, buku, dan sebagainya melalui media sosial. Tapi sayangnya, banyak restoran yang belum memahami layanan itu,” imbuhnya.

Jovel menegaskan, pebisnis makanan dan minuman harus mau memaksimalkan promosi melalui media sosial dengan fitur yang beragam, tak hanya 1 atau 2. Menurutnya, jika tak memanfaatkan media sosial dengan baik, maka pebisnis itu sama saja menyia-nyiakan potensi pemasukan yang besar.

“Media sosial sekarang sama saja dengan uang. Tak hanya untuk mengunggah foto, tapi lebih dari itu. Media sosial itu punya nilai uang yang besar, dan akan ada banyak uang yang hilang atau sia-sia jika tidak dimanfaatkan,” pungkas dia.

Sumber:Detik

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan

Berita terbaru

JPU KPK Tuntut Rahmat Yasin Hukuman 4 Tahun Penjara

BANDUNG - Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK menuntut mantan Bupati Bogor Rahmat Yasin hukuman penjara selama empat tahun, denda...

Berita Terkait
publikbicara.com