Libur Natal dan Tahun Baru Ditiadakan Jika Kasus Covid-19 Meningkat

Berita Populer

Ketua DPC Kabupaten Bogor Anton Sebut KLB Deli Serdang Ilegal dan Abal Abal

BOGOR - Anggota DPR RI Fraksi Demokrat, H. Anton Sukartono Suratto, menolak dengan tegas perhelatan Kongres Luar Biasa (KLB)...

JPU KPK Tuntut Rahmat Yasin Hukuman 4 Tahun Penjara

BANDUNG - Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK menuntut mantan Bupati Bogor Rahmat Yasin hukuman penjara selama empat tahun, denda...

Sparepart Handphone Naik Karena Corona

Kemang - Pasca pemerintah menghentikan sementara ekspor - impor dari negara Cina karena virus Corona harga sparepart handphone naik....

Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Nanggung Tanami Pohon Pisang Di Tengah Jalan

NANGGUNG-Kurang perhatian pemerintah Jalan Kabupaten Curugbitung-Malasari membuat warga sekitar kesal sehingga menanami pohon pisang dan pohon pepaya di tengah...

Bupati Bogor Bagi Penghargaan, Honor Nakes Sempat Telat Dua Bulan

CIBINONG-Bupati Bogor, Ade Yasin memberikan apresiasi kepada 200 orang mulai dari Kepala Desa hingga RT/RW, Babinsa dan Babinkamtibmas se...
- Advertisement -

JAKARTA — Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan libur panjang Natal dan Tahun Baru pada Desember mendatang terancam ditiadakan jika terjadi peningkatan kasus covid-19.

Wiku mengatakan, hal ini menjadi konsekuensi apabila masyarakat tidak patuh pada protokol kesehatan yang menyebabkan kasus covid-19 naik.

“Apabila masyarakat tidak mematuhi protokol kesehatan sehingga kasusnya meningkat, maka ada konsekuensi terhadap keputusan yang diambil oleh pemerintah terkait masa libur akhir tahun,” kata Wiku dalam konferensi pers di Youtube Sekretariat Presiden, Jumat (20/11).

- Advertisement -

Ia mengklaim bahwa keputusan libur panjang ditentukan oleh pemerintah namun tanpa mengabaikan prinsip-prinsip kesehatan masyarakat, apalagi di masa pandemi covid-19.

Jika kedisiplinan masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan dirasa kurang, maka libur dan cuti bersama Natal dan Tahun Baru bisa saja ditiadakan.

“Jadi keputusan terkait libur panjang walaupun ditentukan oleh pemerintah namun prinsipnya sangat bergantung pada kedisiplinan masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan 3M terutama di masa-masa liburan,” tutur Wiku.

- Advertisement -

Wiku juga menegaskan, apapun keputusan yang diambil pemerintah terkait libur panjang ini, merupakan upaya untuk melindungi masyarakat dari kemungkinan tertular covid-19.

“Terlepas diberlakukan atau ditiadakan libur akhir tahun ini keputusan yang diambil oleh pemerintah tentu dalam upaya untuk melindungi masyarakat dari potensi penularan covid-19,” imbuh Wiku.

Berdasarkan revisi SKB 3 Menteri Nomor 391 Tahun 2020, dan Nomor 2 Tahun 2020, tanggal 24-25 Desember menjadi cuti bersama dan libur Natal, ditambah 28 Desember-31 Desember libur pengganti cuti Bersama Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriyah.

- Advertisement -

Jika ditambah dengan tanggal 1-3 Januari 2021 yang jatuh pada Jumat, Sabtu dan Minggu, maka ada sekitar 11 hari libur panjang.

Libur panjang ini dikhawatirkan membuat lonjakan kasus covid-19 karena arus mobilitas masyarakat yang tinggi, padahal di masa pandemi pergerakan orang idealnya dibatasi.

Kasus positif covid-19 diketahui mencapai 483.518 per 19 November 2020 dengan 406.612 sembuh dan 15.600 di antaranya meninggal dunia.

Sumber:Cnn indonesia

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan

Berita terbaru

Sempat Booming Dulu, Kini Gangnam Style Cetak Sejarah di Youtube

JAKARTA - Video musik lagu “ Gangnam Style” milik penyanyi asal Korea, PSY, baru saja mencapai tonggak sejarah baru...

Berita Terkait
publikbicara.com