Imbas Corona! Berikut Adalah Daftar Perusahaan Besar Yang Gulung Tikar

Berita Populer

Pemuda Pancasila Jonggol Gelar Bakti Sosial Dan Tetap Jadi Kontrol Sosial

JONGGOL-Pengurus Anak Cabang (PAC) Pemuda Pancasila Kecamatan Jonggol yang diketuai Indra Taufik, SH melakukan pengukuhan seluruh pengurus ranting se...

Klarifikasi Terkait Penyaluran E-warung di Desa Ciaruteun Udik

CIBUNGBULANG - Klarifikasi terkait pemberitaan yang di langsir dari media online, terkait E- warung yang ada di wilayah Desa...

Lantik Pengurus Ranting Tegal, Ini Pesan Ketua PAC PP Kemang

KEMANG - Pengurus Anak Cabang (PAC) Pemuda Pancasila melaksanakan Rapat Pemilihan Pengurus Ranting Pemuda Pancasila (RPPR PP) Desa Tegal,...

DP Tewas, Teman Kecil Korban Mengaku Kaget

CIBUNGBULANG - Korban DP meninggal dunia dan jasadnya di ketemukan warga dalam kantong plastik besar berwarna hitam di Jalan...

Pohon Berusia 15 Tahun Tumbang Timpa Tembok Kecamatan Leuwisadeng

LEUWISADENG - Pohon mahoni berusia sekitar 15 tahun tumbang dan menyebabkan tembok kantor Kecamatan Leuwisadeng Roboh pada, Senin...
- Advertisement -

Jakarta – Virus Corona yang telah melanda sejak awal tahun memberikan pukulan telak ke dunia bisnis. Pembatasan sosial diberlakukan di seluruh penjuru dunia demi menekan laju penyebaran virus ini.
Upaya pembatasan sosial ini sangat berdampak pada sektor ritel, karena tidak mendapatkan untung dari penjualan di tokonya. Alhasil, sederet perusahaan ritel pun telah mengajukan kebangkrutan dan menutup toko-tokonya.

Beberapa di antaranya pun merupakan nama-nama besar secara global. Berikut ini sederet perusahaan ritel yang terpaksa menutup tokonya karena Corona.

NPC International
Perusahaan ini adalah pemegang hak dari 1.200 gerai Pizza Hut dan 400 restoran Wendy’s di seluruh AS. NPC International bangkrut karena lockdown yang dilakukan imbas virus Corona.

- Advertisement -

4 perusahaan yang Digugat Pailit di Tengah Pandemi
Mereka memiliki beban utang yang besar, ditambah lagi dengan meningkatnya biaya tenaga kerja dan makanan. Perusahaan meminta perlindungan kebangkrutan untuk mengevaluasi dan mengoptimalkan portofolio restoran sehingga berada pada posisi terbaik untuk memenuhi kebutuhan konsumen di seluruh negeri.

Lucky Brand
Perusahaan denim ini mengajukan kebangkrutan pada 3 Juli, pandemi dinilai sangat memengaruhi penjualan di semua saluran. Lucky Brand akan segera menutup 13 dari sekitar 200 toko di Amerika Utara, yang sebagian besar di mal.

Rencananya melalui proses perlindungan kebangkrutan jajaran direksi perusahaan akan menjual Lucky Brand kepada SPARC Group, pemilik Nautica dan Aéropostale.

- Advertisement -

Brooks Brothers
Ritel pakaian andalan 40 presiden AS ini mengajukan kebangkrutan pada 8 Juli. Perusahaan yang berdiri sudah 200 tahun ini bangkrut karena kalah saing dengan modal pakaian kasual yang lebih trendi untuk bekerja.

Brooks Brothers telah mengevaluasi berbagai opsi strategis, termasuk penjualan perusahaan. Perusahaan juga sedang melakukan proses penutupan permanen 20% dari 250 toko di AS.

Sur La Table
Penyedia peralatan dapur kelas atas dan kelas memasak ini mengajukan perlindungan kebangkrutan pada 8 Juli. Perusahaan yang berusia 50 tahun ini terganggu bisnisnya karena adanya lockdown.

- Advertisement -

Meskipun orang semakin sering memasak di rumah dan membutuhkan persediaan dapur. Sur La Table terluka oleh penutupan toko sementara yang dipicu oleh pandemi. Kinerja buruk, akhirnya perusahaan menutup sekitar setengah dari 120 toko di AS.

Muji
Ritel penjual dekorasi minimalis dari Jepang ini mengajukan kebangkrutan pada 9 Juli. CEO Muji Satoshi Okazaki mengatakan perusahaan telah merasakan dampak buruk pandemi COVID-19 pada ritel di dalam toko dan sedang menutup sejumlah kecil toko di AS. Muji berencana untuk memfokuskan upayanya pada penjualan online.

“Kami akan memastikan kesehatan, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup perusahaan di masa depan. Muji berkomitmen untuk melayani pelanggannya di pasar dan menyediakan produk dan pengalaman berkualitas tinggi di masa depan,” kata juru bicara perusahaan.

RTW Retailwinds
Pemilik ritel wanita, New York & Co ini mengajukan kebangkrutan pada 13 Juli. RTW Retailwinds, yang memiliki hampir 400 toko dan 5.000 karyawan, mengatakan dapat menutup sebagian besar toko setelah penjualan likuidasi selesai.

Seperti yang lain, mereka menyalahkan keruntuhannya pada lingkungan ritel yang sudah menantang ditambah dengan dampak pandemi yang menyebabkan kesulitan keuangan yang signifikan.

Heritage Brands
PVH Corp (PVH) perusahaan yang memiliki Calvin Klein dan Tommy Hilfiger, tidak mengajukan kebangkrutan tetapi mengumumkan penutupan substansial dan PHK unit Heritage Brands pada 14 Juli.

Toko-toko Van Heusen dan Izod Golf adalah bagian dari Heritage dan menjual produk sembako di mal-mal outlet AS. Secara total, itu menutup keseluruhan dari 162 jejak toko dan PVH

Sumber : Detik

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan

Berita terbaru

Pohon Berusia 15 Tahun Tumbang Timpa Tembok Kecamatan Leuwisadeng

LEUWISADENG - Pohon mahoni berusia sekitar 15 tahun tumbang dan menyebabkan tembok kantor Kecamatan Leuwisadeng Roboh pada, Senin...

Berita Terkait
publikbicara.com